BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dalam berkomunikasi , setiap orang
menggunakan kata (bahasa). Para linguis sampai sekarang masih
memperbincangkannya karena belum ada batasan yang mutlak tentang itu.Istilah
kata bisa digunakan oleh para tatabahasawan tradisional.Menurut mereka,
kataadalah satuan bahasan yang memiliki satu pengertian atau kata adalah
deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.Para
tatabahasawan struktural, penganut aliran Bloomfield menyebutnya morfem. Batasan
kata yang dibuat Bloomfield sendiri, yakni kata adalah satuan bebas terkecil (a
minimal free form)(chaer, 1994 : 162-163)
Masalah
pilihan akan menyangkut makna kata dan kosakatanya akan memberi keleluasaan
kepada penulis, memilih kata-kata yang dianggap paling tepat mewakili
pikirannya. Ketepan makna kata bergantung pada kemampuan penulis mengetahui
hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referennya.
Seandainya
kita dapat memilih kata dengan tepat, maka tulisan atau pembicaraan kita akan
mudah menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar,
seperti yang dirasakan atau dipikirkan oleh penulis atau pembicara. Mengetahui
tepat tidaknya kata-kata yang kita gunakan, bisa dilihat dari reaksi orang yang
menerima pesan kita, baik yang disampaikan secara lisan maupun
tulisan.Reaksinya bermacam-macam, baik berupa reaksi verbal, maupun reaksi
nonverbal seperti mengeluarkan tindakan atau perilaku yang sesuai dengan yang
kita ucapkan.
1.2
Rumusan Masalah
·
Apa yang di sebut dengan pilihan kata
·
Mendeskripsikan faktor yang mendorong
terbentuknya kesalahan pilihan kata
1.3
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya ilmiah ini
yaitu untuk mengetahui kesalahan dalam memilih kata yang akan di gunakan, baik
berkomunikasi melalui lisan, maupun tulisan.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1
Pengertian pilihan kata serta kesalahannya
Pengertian
pilihan kata atau diksi.Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk
menyatakan sesuatu.Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam
dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari.Dalam memilih kata
yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari
kamus.Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kat-kata.
Dalam hal ini, makna kata yang tepatlah yang diperlukan Kata yang tepat akan
membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya,
baik lisan maupun tulisan.
Selain
itu ada beberapa faktor penyebab sehingga terbentuk kesalahan pilihan kata
diantaranya yaitu kurangnya kosa kata ata perbendaharaan kata.menguasai
sejumlah kosa kata (perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya,
serta mampu menggerakkan dan mendayagunakan kekayaannya itu menjadi
jaring-jaring kalimat yang jelas dan efektif. Di sisi lain kurangnya penguasaan
EYD. Sehingga timbullah kesalahan-kesalahan dalam pemilihan kata.
Adapun
fungsi Pilihan kata atau Diksi adalah Untuk memperoleh keindahan guna menambah
daya ekspresivitas. Maka sebuah kata akan lebih jelas, jika pilihan kata
tersebut tepat dan sesuai. Ketepatan pilihan kata bertujuan agar tidak menimbulkan
interpretasi yang berlainan antara penulis atau pembicara dengan pembaca atau
pendengar, sedangkan kesesuaian kata bertujuan agar tidak merusak
suasana.Selain itu berfungsi untuk menghaluskan kata dan kalimat agar terasa
lebih indah.Dan juga dengan adanya diksi oleh pengarang berfungsi untuk
mendukung jalan cerita agar lebih runtut mendeskripsikan tokoh, lebih jelas
mendeskripsikan latar waktu, latar tempat, dan latar sosial dalam cerita
tersebut.
2.2
Pendapat Pakar
Dalam KBBI (2002 : 264) diksi diartikan
sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk
mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan.
Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi
kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan.
Menurut keraf (2002 : 87) “Ketepatan
pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan
gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa
yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembaca”. Masalah pilihan akan
menyangkut makna kata dan kosakatanya akan memberi keleluasaan kepada penulis,
memilih kata-kata yang dianggap paling tepat mewakili pikirannya. Ketepan makna
kata bergantung pada kemampuan penulis mengetahui hubungan antara bentuk bahasa
(kata) dengan referennya.
menurut
Keraf (2002: 14) diksi : Orang yang menguasai banyak kosakata tidak akan
menerima bahwa kata-kata tersebut mengandung arti yang sama, karena bisa
menempatkan kata-kata itu dengan cermat sesuai dengan konteksnya. Sebaliknya
orang yang tidak menguasai kosakata akan mengalami kesulitan karena tidak
mengetahui ada kata yang lebih tepat, dan tidak mengetahui ada perbedaan dari
kata-kata yang bersinonim itu.Selain itu, Menurut Keraf (2002:21)”Kata-kata
ibarat”pakaian” yang dipakai oleh pikiran kita.Tiap kata memiliki “jiwa”.
Setiap anggota masyarakat harus mengetahui “jiwa”, agar ia dapat menggerakkan
orang lain dengan “jiwa” dari kata-kata yang dapatdigunakannya:.
2.3
Sumber Data
Sumber data ini di peroleh dari
penelitian penelitian secara lisan kemudian sumber data itu di susun kedalam
bentuk tulisan. Adapun sumber data lain, di ambil dari beberapa pedoman,
diantaranya morfologi dan buku-buku bahasa Indonesia di perguruan tinggi.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Pengertian Pilihan Kata
Pilihan Kata dalam arti aslinya dan
pertama, merujuk pada diksi dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Dan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang
tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga
diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”. Dari pernyataan itu tampak
bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya,
termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan. Setiap kata memiliki makna
tertentu untuk membuat gagasan yang ada dalam benak seseorang.Bahkan makna kata
bisa saja “diubah” saat digunakan dalam kalimat yang berbeda. Hal ini
mengisyaratkan bahwa makna kata yang sebenarnya akan diketahui saat digunakan dalam
kalimat
Selain itu pilihan kata dimaksudkan
untuk memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu.Pilihan kata merupakan
satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia
tutur setiap hari.Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan
suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus.Kamus memberikan suatu ketepatan
kepada kita tentang pemakaian kat-kata.
Pilihan akat atau diksi bukan hanya
memilih kata-katayang cocok dan tepat untuk digunakan dalam mengungkapkan
gagasan atau ide, tetapi juga menyangkut persoalan fraseologi (cara memakai
kata atau frase di dalam konstruksi yang lebih luas, baik dalam bentuk tulisan
maupun ujaran), ungkapan, dan gaya bahasa. Fraseologi mencakup persoalan
kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau menyangkut cara-cara yang
khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Pemilihan gaya bahasa yang akan digunakan
pun merupakan kegiatan memilih kata menyangkut gaya-gaya ungkapan secara
individu. Orang yang banyak menguasai kosakata akan lebih mudah memilih
kata-kata yang tepat untuk digunakan dalam menyampaikan gagasannya. Orang yang
kurang banyak menguasai kosakata terkadang tidak bisa menempatkan kata terutama
yang bersinonim, seperti kata meneliti sama artinya dengan kata menyelidiki, mengamati,
dan menyidik. Kata0kata turunannya penelitian, penyelidikan, pengamatan, dan
penyidikan. Orang yang menguasai banyak kosakata tidak akan menerima bahwa
kata-kata tersebut mengandung arti yang sama, karena bisa menempatkan kata-kata
itu dengan cermat sesuai dengan konteksnya. Sebaliknya orang yang tidak
menguasai kosakata akan mengalami kesulitan karena tidak mengetahui ada kata
yang lebih tepat, dan tidak mengetahui ada perbedaan dari kata-kata yang
bersinonim itu. Dengan demikian, menurut Keraf (2002: 14) diksi :
3.2
Faktor yang Mendorong Terbentuknya Kesalahan Pilihan Kata
3.2.1
Kurangnya Kosa Kata
Orang yang banyak
menguasai kosakata akan lebih mudah memilih kata-kata yang tepat untuk
digunakan dalam menyampaikan gagasannya. Orang yang kurang banyak menguasai
kosakata terkadang tidak bisa menempatkan kata terutama yang bersinonim,
seperti kata meneliti sama artinya dengan kata menyelidiki, mengamati, dan
menyidik. Kata0kata turunannya penelitian, penyelidikan, pengamatan, dan
penyidikan. Orang yang menguasai banyak kosakata tidak akan menerima bahwa
kata-kata tersebut mengandung arti yang sama, karena bisa menempatkan kata-kata
itu dengan cermat sesuai dengan konteksnya. Sebaliknya orang yang tidak
menguasai kosakata akan mengalami kesulitan karena tidak mengetahui ada kata
yang lebih tepat, dan tidak mengetahui ada perbedaan dari kata-kata yang
bersinonim itu. Dengan demikian, menurut Keraf (2002: 14) diksi :
Di
bawah beberapa gambaran yang harus kita perhatikan sehingga kita mudah memilih
kata-kata yang tepat:
a.
Kita harus bisa membedakan secara cermat kata-kata denitatif dan konotatif;
bersinonim dan hampir bersinonim; kata-kata yang mirip dalam ejaannya, seperti
:bawa-bawah, koorperasi-korporasi, interfensi-interferensi, dan
b.
Hindari kata-kata ciptaan sendiri atau mengutip kata-kata orang terkenal yang
belum diterima di masyarakat.
c.
Waspadalah dalam menggunaan kata-kata yang berakhiran asing atau bersufiks
bahasa asing, seperti :Kultur-kultural, biologi-biologis, idiom-idiomatik,
strategi-strategis, dan lain-lain
d.
Kata-kata yang menggunakan kata depan harus digunbakan secara idiomatik,
seperti kata ingat harus ingat akan bukan ingat terhadap, membahayakan sesuatu
bukan membahayakan bagi, takut akan bukan takut sesuatu.
e.
Kita harus membedakan kata khusus dan kata umum.
f.
Kita harus memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah
dikenal.
g.
Kita harus memperhatikan kelangsungan pilihan kata.
3.2.2 Kurangnya Pengetahuan Tentang Proses
Pembentukan Kata
Proses pembentukan kata
dapat di peroleh dengan memahami EYD (ejaan yang di sempurnakan), fonologi,
kata umum dan lkata khusus, penggunaan klitika akhiran ku,mu,nya maupun
penggunaan klitika kata ganti nya dan penggunaan klitika kah dalam kalimat.
Di bawah ini beberapa
contoh proses pembentukan dan kesalahan dalam pemilihan kata.
a.Penganggalan Awalan Me-
Penganggalan pada judul cerita dalam surat kabar diperbolehkan. Namun, dalam teks beritanya awalan me- harus eksplisit.Dibawah ini diperhatikan bentuk yang salah dan bentuk yang benar.
Contoh:
1.a) Amerika serikat luncurkan pesawat bolak-balik Colombia (salah)
1. b) Amerika serikat meluncurkan pesawat bolak-balik Colombia (benar)
Penganggalan pada judul cerita dalam surat kabar diperbolehkan. Namun, dalam teks beritanya awalan me- harus eksplisit.Dibawah ini diperhatikan bentuk yang salah dan bentuk yang benar.
Contoh:
1.a) Amerika serikat luncurkan pesawat bolak-balik Colombia (salah)
1. b) Amerika serikat meluncurkan pesawat bolak-balik Colombia (benar)
b.Penagnggalan Awalan Ber-
Kata-kata yang berawalan Ber- sering mengandalkan awalan Ber. Padahal awalan Ber harus dieksplisitkan secara jelas.Berikut ini contoh salah dan benar dalam pemakaian.
Contoh:
1. a) Sampai jumpa lagi (salah)
1. b) Sampai berjumpa lagi (benar)
c.Peluluhan Bunyi /c/
Kata dasar yang diawali bunyi c sering menjadi luluh apabila mendapat awalan me. Padahal tidak seperti itu.
Contoh:
1. a) Ali sedang menyuci mobil (salah)
1. b) ali sedang mencuci mobil (benar)
d.Penyengauan Kata Dasar
Ada gejala penyengauan bunyi awal kata dasar, penggunaan kata dasar ini sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya pencampuran antara ragam lisan dan ragam tulis menimbulkan suatu bentuk kata yang salah dalam pemakaian.
Contoh:
Nyopet, mandang, nulis, dan nambrak. Dalam bahasa Indonesia kita harus menggunakan kata-kata mencopet,memandang, menulis, dan menembrak.
Kata dasar yang diawali bunyi c sering menjadi luluh apabila mendapat awalan me. Padahal tidak seperti itu.
Contoh:
1. a) Ali sedang menyuci mobil (salah)
1. b) ali sedang mencuci mobil (benar)
d.Penyengauan Kata Dasar
Ada gejala penyengauan bunyi awal kata dasar, penggunaan kata dasar ini sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya pencampuran antara ragam lisan dan ragam tulis menimbulkan suatu bentuk kata yang salah dalam pemakaian.
Contoh:
Nyopet, mandang, nulis, dan nambrak. Dalam bahasa Indonesia kita harus menggunakan kata-kata mencopet,memandang, menulis, dan menembrak.
e.Bunyi /s/, /k/, p/, dan /t/
yang Tidak Luluh
Kata dasar yang bunyi awalnya s, k, p, atau t sering tidak luluh jika mendapat awalan me atau pe.Padahal menurut kaidah buku bunyi-bunyi itu harus lebur menjadi bunyi sengau.
Contoh:
1. a) Semua warga neraga harus mentaati peraturan yang berlaku (salah)
1. b) Semua warga neraga harus menaati peraturan yang berlaku (benar)
Kata dasar yang bunyi awalnya s, k, p, atau t sering tidak luluh jika mendapat awalan me atau pe.Padahal menurut kaidah buku bunyi-bunyi itu harus lebur menjadi bunyi sengau.
Contoh:
1. a) Semua warga neraga harus mentaati peraturan yang berlaku (salah)
1. b) Semua warga neraga harus menaati peraturan yang berlaku (benar)
f.Awalan Ke- yang Kelirugunaan
Pada kenyataan sehari-hari, kata-kata yang seharusnya berawalan ter sering diberi awalan ke. Hal itu disebabkan oleh kekurang cermatan dalam memilih awalan yang tepat.
Contoh:
1. a) Pengendara mator itu meninggal karena ketambrak oleh kereta api (salah)
1. b) pengendara motor itu meninggal karena tertambrak oleh kereta api (benar)
Perlu tiketahui bahwa awalan ke hanya dapat menempel pada kata bilangan. Selain di depan kata bilangan, awalan ke tidak dapat dipakai kecuali pada kata kekasih, kehendak, dan ketua.
Pada kenyataan sehari-hari, kata-kata yang seharusnya berawalan ter sering diberi awalan ke. Hal itu disebabkan oleh kekurang cermatan dalam memilih awalan yang tepat.
Contoh:
1. a) Pengendara mator itu meninggal karena ketambrak oleh kereta api (salah)
1. b) pengendara motor itu meninggal karena tertambrak oleh kereta api (benar)
Perlu tiketahui bahwa awalan ke hanya dapat menempel pada kata bilangan. Selain di depan kata bilangan, awalan ke tidak dapat dipakai kecuali pada kata kekasih, kehendak, dan ketua.
g.Pemakaian Akhiran –ir
Pemakaian kata akhiran –ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Padahal, dalam bahasa Indonesia baku untuk akhiran –ir adalah asi atau isasi.
Contoh:
1. a) Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu (salah)
1. b) Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu (benar)
Pemakaian kata akhiran –ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Padahal, dalam bahasa Indonesia baku untuk akhiran –ir adalah asi atau isasi.
Contoh:
1. a) Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu (salah)
1. b) Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu (benar)
h.Padanan yang Tidak Serasi
Terjadi ketika pemakaian bahasa yang kurang cermat memilih padanan yang serasi, yang muncul dalam kehitupan sehari-hari adalah padanan yang tidak sepadan atau yang tidak serasi. Hal itu, terjadi karena dua kaidah yang berselang, atau yang bergabung dalam sebuah kalimat.
Contoh:
1. a) karena modal dibank dibank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (salah)
1. b) karena modal dibank terbatas, tidak semua pengusah lemah memperoleh kredit (benar)
1. c) modal dibank terbatas sehingga, tidak semua pengusah lemah memperoleh kredit (benar)
Bentuk-bentuk diatas adalah bentuk yang menggabungkan kata karena dan sehingga, kata apabila dan maka, dan kata walaupun dan tetapi.
i.Pemakaia Kata Depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap
Dalam pemakaian sehari-hari, pemakaian kata di, ke, dari, bagi, dan daripada sering dipertukarkan.
Contoh:
1.a) putusan dari pada pemerintah itu melegakan hati rakyat. (salah)
2.a) putusan pemerintah itu melegakan hati rakyat. (benar)
BAB
IV
PENUTUP
4.1
Simpulan
Pilihan Kata dalam arti aslinya dan
pertama, merujuk pada diksi dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Dan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang
tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga
diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”. Dari pernyataan itu tampak
bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya,
termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan. Setiap kata memiliki makna
tertentu untuk membuat gagasan yang ada dalam benak seseorang.Bahkan makna kata
bisa saja “diubah” saat digunakan dalam kalimat yang berbeda. Hal ini
mengisyaratkan bahwa makna kata yang sebenarnya akan diketahui saat digunakan dalam
kalimat
Selain itu ada beberapa faktor
penyebab sehingga terbentuk kesalahan pilihan kata diantaranya yaitu kurangnya
kosa kata atau perbendaharaan kata.menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan
kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu menggerakkan dan
mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas dan
efektif. Di sisi lain kurangnya penguasaan proses pembentukan kata dapat di
peroleh dengan memahami EYD (ejaan yang di sempurnakan), fonologi, kata umum
dan lkata khusus, penggunaan klitika akhiran ku,mu,nya maupun penggunaan
klitika kata ganti nya dan penggunaan klitika kah dalam kalimat. di antaranya Sehingga timbullah
kesalahan-kesalahan dalam pemilihan kata.
4.2
Saran
Dari kesimpulan di atas penulis
menyarankan kepada pembaca, kiranya agar dalam memilih kata yang tepat, kita
harus memperbanya perbendaharaan kata serta mengetahui betul proses pembentukan
kata.